Seni Rupa Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang

unnamed-7

Oleh: Antariksa

Sejak awal 2013 Antariksa tengah melakukan penelitian tentang seni rupa Indonesia pada masa Perang Dunia II, berdasarkan arsip dan koleksi seni di Jepang, Belanda, dan beberapa negara lain. Penelitian ini mencari tahu tentang seni rupa Indonesia (mencakup: senimannya, karyanya, pamerannya, dan politiknya) dalam konteks politik perang Jepang di Asia, serta bagaimana kehidupan dan politik seni rupa di Jepang ikut mempengaruhi dan membentuk dunia seni di luar Jepang, tak terkecuali di Indonesia.
Di dalam penelitian ini Antariksa juga meneliti seniman-seniman Jepang, khususnya seniman-seniman yang pernah dikirim/bekerja di Indonesia pada periode itu, baik sebagai “seniman perang”, maupun sebagai “seniman profesional”, dan hubungan mereka dengan seniman dan dunia seni Indonesia. Demikian juga mengenai sejarah dan politik seni di Jepang, terutama dalam konteks “nasionalisme baru” dan populernya yōga (seni gaya Barat) di Jepang mulai awal abad ke-20, yang merupakan periode krusial pembentuk politik dan kebijakan seni di Jepang pada masa perang. Dalam presentasinya ini, Antariksa akan memaparkan proses dan temuan dalam kerja penelitiannya sejauh ini.

Foto Kartono Yudokusumo.
Sumber: Djawa Baroe, 1 Mei 1943.

 

Matrix City

unnamed-6A lecture by Arjon Dunnewind in English

Moderator: Maria Adriani

MATRIX CITY 
Cities and Urban Cultures are permanent sources of inspiration for artists and scientists, as well as for utopists and defeatists. The city pre-eminently is an expression of ideals in which ideas about functionality and beauty, equality and happiness are given shape and architecture and (infra)structure meet with imagination, desire and resistance. Developments in society and cultural trends usually originate from a metropolitan environment where people meet, inspire and provoke each other and where the dynamics and technical facilities required to develop these ideas are present and available. New media change the notion of public space. Public space is merging with virtual space where one influences and enhances the other: Augmented Reality, The Internet of Things, Ubiquitous Computing, etc. Urban culture is becoming media culture, more and more: jogging with your mp3 player, videos on mobile phones, digital graffiti, urban screens, video walls and architecture with integrated interactive technology.

‘Matrix City’ maps out the urban landscape as platform and source for inspiration for contemporary artists. The city is viewed as a gathering place of subcultures and communities and for typical urban art-forms like street-art, grafitti and parkours. The presentation sheds some light on the more political issues as the relationship between public space and private space and on the question who is in charge over public space. Also the city is presented as an immersive audiovisual environment, as a modal structure in which virtual and real systems merge.

A variation of artists and phenomena will be discussed ranging from the Situationists and Constant to contemporary artists like Julian Oliver, Sagi Groner, Constant Dullaart, Evan Roth, Julius von Bismarck, GPSter, Gordan Savicic, Christina Kubisch, Claudia Bernett, Michelle Teran and Gabriel Menotti.

Arjon Dunnewind (born in Ommen, The Netherlands, 1967) studied at the Utrecht School of Arts. In 1988 he was co-organizer of the first Impakt Festival and in 1993 he established the Impakt Foundation. In the 1990-ies he curated and organized presentations and touring programs for international artists and filmmakers, projects that would develop into the Impakt Events and become a regular part in the Impakt Foundations program. From 1994 till 1997 he produced ‘KabelKunst’ and ‘Vizir’, two TV-series about video art and experimental film.

In the early 2000’s he started Impakt Online, a project aimed at developing the internet as a platform for the presentation of interactive art projects and streaming video. In 2005 he started a residency programme called Impakt Works where international artists working with video, digital media and new technologies are supported and facilitated to make new work.

Dunnewind has curated exhibitions and screening programmes for e.g. Castello di Rivoli in Italy, the Museo de Bellas Artes in Buenos Aires and the NCCA in Moscow. He worked as an advisor for the Dutch Film Fund, department Research & Development, from 1996 until 2000 and for the Dutch Mediafonds & Fonds BKVB, department Innovative Music Video, from 2009 to 2012. He regularly gives guest lectures at art academies and universities and participates in juries for festivals and art-prizes.

http://impakt.nl/

Maria Adriani, born ini Purwokerto, 1982. She studied Architecture at Islamic University of Indonesia, Yogyakarta, and achieved her Master Degree in Urban Dvelopment and Design at UNSW, Sydney, Australia. Currently Maria is working as Urban Landscape Analyst for Ugahari Architecture and a Lecurer at Architecture Department, Islamic University of Indonesia, Yogyakarta. She’s also a Founder & Generator of GAWE-kampung design community Maria has done many researches on architecture and urban issue, the recent ones are “River, Water Culture, and Asian Cities Case Study: Bangkok”, Bangkok, Thailand, “Rumah Asal: Resiliency Among Globalization and Romanticism”, Bali in Golbal Asia International Conference, Bali, Indonesia, dan “Alternative to Live: The Rented Vertical Flats the Side of Code River, Yogyakarta”, ICSBE #2, Yogyakarta, Indonesia.

http://okvideofestival.org/2013/december-programs-with-impakt/
http://okvideofestival.org/2013/matrix-city
http://okvideofestival.org/2013/in-delta-flux

Peluncuran Buku Foto Indonesian Press Photo Service (IPPHOS): reMASTERed Edition

unnamed-5

Pembicara:
Bambang Purwanto (sejarawan)
Realisa Darathea Masardi (peneliti)
Yudhi Soerjoatmodjo (penulis buku IPPHOS: reMASTERed Edition)

Moderator: Umi Lestari (penulis)

Ini foto-foto tentang menjadi Indonesia dan manusia Indonesia. Bukan cuma pejuang Indonesia yang berikat kepala merah-putih, yang mengepalkan tinju ke langit, yang ingin mengatakan “ini dadaku, mana dadamu!”, dan yang maju merangsek melawan tank musuh hanya bersenjatakan bambu runcing. Tapi juga manusia Indonesia sebagaimana yang mungkin dibayangkan oleh para pendiri dan juru foto IPPHOS ketika mereka memotretnya dari sudut pandang sebuah kantor berita pro-Republik yang independen: manusia Indonesia yang cerdas, toleran, dan moderen yang berjuang di sisi kemerdekaan dan keadilan namun juga di sisi kemanusiaan dan kebenaran.
-Yudhi Soerjoatmodjo

Acara ini adalah kerjasama antara IVAA dan Galeri Foto Jurnalistik Antara, dalam rangkaian Pameran Fotografi & Peluncuran Buku Foto “Indonesian Press Photo Service (IPPHOS): reMASTERed Edition” di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta. Pameran berlangsung 1-8 Maret 2014. Pameran dan Temu Wicara ini terbuka untuk umum dan gratis.

Pada hari diskusi berlangsung buku bisa dibeli dengan harga spesial yakni Rp. 280.000,- sementara pada hari lain berlaku harga umum, Rp. 400.000,-

Tautan:
fotografer.net | jogja.tribunnews.com | antarafoto.com | majalah.tempo.co |thejakartaglobe.com | radarnusantara.com | exposure-magz.com

 

Artists’ Talk: Su Tomesen “Traveling Artist”

unnamed-4*Talk will be delivered in English

Su Tomesen is a Dutch visual artist based in Amsterdam and Jogjakarta. Her work consists of videos, photographs, installations and interventions. Most of her work evolves from traveling, and immersing herself in urban (sub) cultures. A recurring theme in her socially involved work is expressions of ingenuity and human resourcefulness in public space. Her previous education as a historian, and work as a director and researcher for television, is integrated in her art practice.

Su has been fortunate to see a lot of the world as artist-in-residence in Amman, Johannesburg and Medellin, and working for an international video art project in Port-au-Prince, Buenos Aires and Rio de Janeiro. Next to her work as an artist she has been teaching video workshops for Unicef and The One Minutes Foundation.

Su considers herself a type of cross-cultural ambassador when showing works she realized elsewhere in the world; for example, exposing an audience in Amsterdam to an installation from Amman, presenting her videos from Johannesburg in Yerevan, or giving an artist talk here in Jogjakarta.

Su started commuting between Amsterdam and Jogjakarta after meeting fellow artist Teguh Hartanto, now her husband and father of their daughter Lina. Experiencing life inside out in Indonesia and working with Teguh has inspired some new works and upcoming projects, currently under way. These include:

Film Jalan about ingenuity in Jogjakarta

Intervention Warung at residency in Amsterdam

Installation Rumah at metro station Amsterdam

Exhibition Exchange in Provinciehuis Maastricht

More about Su Tomesen:
videos | installations | residencies | teaching

* PICTURE:
‘Master’, Havana, Cuba 2006
At the opening of La Bienal de la Habana 2006 Su Tomesen photographed an enthusiastic Cuban dancer.

 

Kuliah Umum “Fotografi Kontemporer di Amerika”

unnamed-3Oleh: Brian Arnold

Brian Arnold adalah seorang guru seni rupa dan fotografi di School of Art and Design at Alfred University di New York. Brian pernah belajar fotografi di Prancis, Amerika, China, dan Italy. Foto-fotonya telah di pamerkan di berbagai tempat antara lain Paris, New York, Boston, Beijing, dan Florence, Italia. Kali ini di RumahIVAA, Brian telah menyiapkan kuliah umum tentang kecenderungan fotografi kontemporer di Amerika (USA). Kuliah umum ini akan membahas buku-buku fotografi, dan fotografi tentang teknologi fotografi.
Kuliah umum akan dihantarkan dalam Bahasa Indonesia dengan panduan penerjemah.

Bedah Buku “Soeka-Doeka Di Djawa Tempo Doeloe”

unnamed-2

Penulis: Olivier Johannes Raap

Tradisi serta kebudayaan yang menyelimuti kehidupan penduduk Pulau Jawa, dari usia muda sampai tua bahkan hingga meninggal, terungkap lewat kartu pos kuno. Kartu pos yang terbuat dari foto-foto menarik di masanya, merekam sejarah-sejarah kecil yang kerap dianggap remeh-temeh. Bersama 140 lebih koleksi kartu pos, yang dikelompokkan dalam 10 bab, yaitu Cantik & Tampan, Pernikahan, Keluarga Bahagia, Anak & Pendidikan, Si Kaya & Si Miskin, Kesenian, Perayaan, Permainan, Manusia & Hewan, dan Pemakaman, disertai penjelasan-penjelasan informatif, penulis Olivier Johannes Raap mengajak pembaca buku ini kembali ke satu abad silam untuk menyaksikan suka-duka di Jawa tempo dulu.

Pada buku ini, penulis secara khusus memilih tema yang berkaitan dengan sosial budaya, dan juga dengan emosi. Dari 10 bab, ada 9 yang berkaitan dengan emosi sukacita, kegiatan bersuka ria, dan 1 bab khusus dukacita karena menceritakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pemakaman. Di hampir seluruh kategori, anak-anak selalu menikmati hidup, apapun keadaannya, walaupun ada juga beberapa anak yang dipaksa bekerja dan terpaksa dinikahkan di usia sangat muda. Tak lupa, wanita sebagai makluk ciptaan Tuhan yang indah, juga menghiasi banyak bab. Dari rakyat jelata sampai putri keraton, kita dapat melihat kecantikan klasik alami para perempuan di Pulau Jawa dari berbagai suku bangsa. Kesenian mendapat tempat khusus di buku ini. Diceritakan mengenai kesenian yang ada di Pulau Jawa, yang mungkin saja generasi zaman kini sudah tidak kenal lagi.

Banyak sumber referensi yang mendukung keterangan dalam setiap narasi yang diberikan di setiap gambar kartu pos. Penulis menjelaskan pakaian yang dikenakan, ekspresi dan posisi orang dalam foto, hingga benda-benda yang tampak. Olivier akan mengantar Anda juga untuk menyelami latar belakang sisi sosial dan budaya secara lebih detil. Buku ini enak untuk dibuka-buka maupun juga untuk dibaca. Gambar-gambarnya sangat menarik untuk dilihat dan menyenangkan untuk dipakai sebagai bahan pelajaran maupun bahan hiburan semata baik bagi generasi tua maupun muda.

Semua kartu pos diproduksi dari foto-foto karya beberapa fotografer ternama dan banyak juga dari fotografer anonim. Namun semua foto merupakan karya profesional yang indah. Sebagian besar dari ilustrasi merupakan hasil karya Kassian Céphas, fotografer pribumi yang pertama, dan anaknya Sem Céphas. Di bagian introduksi buku terdapat biografi singkat Kassian dan Sem Cephas, dan di beberapa narasi, gaya pemotretan dan tata pose model-modelnya dibahas. Sebagai penutup buku, sebuah epilog berjudul Relasi Kebudayaan, Lalu dan Kini ditulis dengan menarik oleh Cahyadi Dewanto, fotografer dan pengajar di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung) yang sejak 2005 mengerjakan proyek foto dokumenter Kassian Cephas: “Jejak-jejak sang fotografer Kassian Cephas”.

Olivier Johannes Raap lahir 5 Oktober 1966 di Grootschermer, sebuah desa kecil di Belanda, dikelilingi kincir angin dan sapi. Waktu musim panas, selalu berada di desa kakek dan nenek, La Bastide-de-Sérou di Perancis. Di usia muda, terserang penyakit asma, maka dokter menyarankan untuk belajar alat musik tiup untuk melatih paru-paru. Dengan senang hati, Olivier belajar antara lain suling, oboe, dan fagot, dan sejak usia 12 tahun dia suka mencari uang saku sebagai pengamen, sekalipun dengan melawan kehendak orang tua. Setelah lulus dari sekolah menengah, dia melanjutkan pendidikan di universitas di Delft di bidang arsitektur. Saat ini dia bekerja sebagai pedagang buku di Den Haag. Walaupun sudah menjadi orang kota, ingatan masa kecil masih sering menimbulkan perasaan yang menyenangkan terhadap suasana pedesaan. Hobinya bertualang, bersepeda, memasak, musik klasik, baca buku, mempelajari sejarah, dan koleksi barang antik.

Tahun 1998 Olivier berkunjung ke Indonesia untuk pertama kalinya sebagai turis, dan mendapati pengalaman bahwa iklim tropis berkhasiat pada penyakit asma. Kemudian, entah sudah berapa kali ia mengunjungi Indonesia untuk belajar bahasa dan sejarahnya. Rasa cintanya khusus untuk Pulau Jawa, yang sudah ia anggap sebagai rumah kedua, telah menghasilkan dua buku. Pada April 2013 karya pertamanya, Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe, terbit, yang pada November 2013 dilanjutkan ke Soeka-Doeka di Djawa Tempo Doeloe. Kedua buku diberi ilustrasi dengan foto dan kartu pos kuno dari koleksi Olivier sendiri.

Respon dan antusiasme para pembaca luar biasa. September 2013, acara bedah buku “Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe” digelar di enam kota di Jawa, yaitu Magelang, Kediri, Madiun, Surabaya, Bandung, dan Jakarta, yang ramai dikunjungi, dan tidak terlepas dari peran media cetak. Dikatakan bahwa Olivier berbeda dibanding para sejarawan dari Belanda yang di Indonesia, hanya menghadiri seminar dan workshop di universitas. Ia penulis publik yang secara langsung berani berkunjung ke banyak tempat dan sejumlah orang banyak di Jawa.

Sekarang buku ketiga sedang dalam persiapan: Djeladjah Perkotaan di Djawa Tempo Doeloe. Di Indonesia, Olivier biasanya dipanggil Mas Oli.

 

Book Discussion: “dia datang, dia lapar, dia pergi” Kenangan Pak Djon, Sopir dan Asisten Pribadi, tentang Pelukis Affandi (1907-1990)

Suhardjono (kiri), Affandi (kanan), foto Felix EY
Suhardjono (kiri), Affandi (kanan), foto Felix EY

Penulis: Hendro Wiyanto, Hari Budiono

“Saya berharap anak cucu saya semua melek seni. Mereka bisa melanjutkan, bisa merawat, dan bisa menceritakan tentang lukisan saya kepada setiap orang. Maka, kalau bisa, hancurnya museum saya nanti bersamaan dengan datangnya hari kiamat.” (hal. 237)

Demikianlah suatu ketika Affandi sang pelukis, curhat pada Suhardjono, sopir dan asistennya, yang selama 30 tahun berangsur-angsur menjadi salah satu orang terdekat Affandi. Dalam “dia datang, dia lapar, dia pergi”, para penulis Hendro Wiyanto dan Hari Budiono mengisahkan Affandi dari tuturan Pak Djon tentang berbagai aspek kehidupan seorang seniman.

buku

Kami mengundang Anda untuk berpartisipasi dalam bedah buku yang akan diadakan Sabtu, 5 April 2014 di Langgeng Art Foundation, Jl. Suryodiningratan 37, Yogyakarta, mulai jam 14.00 WIB. Bedah buku ini mengundang beberapa pembicara selain para penulis Hendro Wiyanto dan Hari Budiono, Pak Djon, dengan penanggap Amir Sidharta dan Khidir Marsanto.

Sepanjang bedah buku berlangsung, buku akan dijual dengan harga khusus, yakni Rp 150,000,00.
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Sdri. Alief di 085729060770.

 

Bedah Buku hasil Workshop Penulisan Sejarah Kritis Seni Rupa Kontemporer “Membaca Arsip, Membongkar Serpihan Friksi, Ideologi, Kontestasi: Seni Rupa Jogja 1990-2010”

unnamedPenulis: Agnesia Linda M., Galatia Puspa Sani, Ida Fitri, Khidir Marsanto P., Muhammad AB, Pitra Hutomo, Rakai Badrika, Realisa D. Massardi, Taufik Nur Rahman, dan Umi Lestari

Bedah Buku hasil Workshop Penulisan Sejarah Kritis Seni Rupa Kontemporer

“Membaca Arsip, Membongkar Serpihan Friksi, Ideologi, Kontestasi: Seni Rupa Jogja 1990-2010”

Selain para penulis, acara ini mengundang dua orang penanggap, yakni Tia Pamungkas dan Gintani Nur Apresia Swastika, dengan moderator Umi Lestari.

10 tulisan dalam buku ini merupakan hasil dari workshop sejarah kritis seni rupa “Membongkar Friksi, Ideologi, dan Kontestasi: Workshop Penulisan Sejarah-Kritis Seni Rupa Jogja 1990-2010” proyek Des Christy, salah seorang peraih Hibah KARYA! 2013.

Versi PDF tersedia untuk diunduh di sini.

Diskusi Buku Dunia Dalam Kota – Pasar Terong Makassar

2014-04-17_DiskusiBukuPasarTerong Pembicara: Agung Prabowo, Anwar Jimpe Rahman, Ishak Salim, Zulhajar Moderator: Sita Magfira

Kali ini Yogyakarta “diserbu” Makassar. Empat orang teman muda dari berbagai latar belakang yang berasal dari Kota Makassar akan berbagi cerita, kegelisahan dan juga optimisme. Berangkat dari kerja kolaborasi bernafas panjang, berbagai komunitas dan lembaga seperti: Penerbit Ininnawa, Active Society Institut (AcSI), SADAR, TANAHINDIE, dan Makassarnolkm, terlibat bersama dan merekam denyut kehidupan Pasar Terong, Makassar. Salah satu hasil kerja bersama tersebut hadir dalam bentuk terbitan buku berjudul: Pasar Terong Makasar: Dunia Dalam Kota. Pasar Terong, sebuah pasar terpenting di Sulawesi Selatan dan Wilayah Indonesia Timur.

Pasar Terong menjadi muara pertemuan aliran komoditas dari 11 Provinsi di Indonesia. Tidak kurang sejuta petani yang ada di jazirah Sulawesi Selatan mengirim beragam bahan pokok ke sana. Pasar Terong juga merupakan salah satu dari empat pasar rujukan harga bahan pokok di Indonesia setelah Pasar Kramat Jati Jakarta, Pasar Turi Surabaya, dan Pasar Meda Kota di Sumatera Utara. Ribuan orang bekerja di pasar tersebut, menyalurkan berbagai komoditas ke berbagai wilayah nusantara. Inilah buku yang langka, menarik dan kontemporer yang membahas mengenai pasar. Antropolog, sosiolog, arsitek dan urban planner, jurnalis, sastrawan, seniman, dan juga semua kalangan aktivis dari ranah apapun, perlu datang dan ikut membicarakan buku ini.

Pasar, seperti halnya makanan, selalu tersangkut di mana kita berada. Dari meja sarapan hingga kebun bunga. Ia menjadi bagian dan menggerakkan denyut hidup kita.

Lecture – Towards a Post-Ethnographic Museum in the 21st Century

2014-05-02_PostEthnoMuseumA Lecture by Dr. Clémentine Deliss
Director, Weltkulturen Museum, Frankfurt

In 2014, an ethnographic museum appears to be out of time, its historical collection unable to combine with current understandings of today’s post-colonial worlds. What can be done to reactivate its collections? How does one build a new collection from one that is so clearly from the colonial past?

At the Weltkulturen Museum in Frankfurt, we work with over 67,000 historical artefacts from South East Asia including Indonesia, Oceania, Africa and the Americas. We have an image and film archive of around 120,000 documents, a library with over 50,000 books and journals, plus a pioneering collection of works of contemporary art from Africa that was initiated in the mid-1980s before the “global turn”. Guest artists and scholars are invited to work in the museum’s laboratory with these collections and to produce new interpretations in relation to selected objects. This work within the museum leads to the production of exhibitions, displaying both the historical artifacts and the new unfinished art works. The once dormant ethnographic museum becomes a restive, unruly kind of institution, in which new formulations of trans-cultural understanding are created through a clash of referentiality and the constructive implementation of anachronism.

Clémentine Deliss is director of the Weltkulturen Museum in Frankfurt am Main. She studied contemporary art and social anthropology in Vienna, London and Paris and holds a PhD from the University of London. From 1992 to 1995 she was the artistic director of africa95. Selected exhibitions curated by Deliss include: “Foreign Exchange (or the stories you wouldn’t tell a stranger) 2014, Weltkulturen Museum (with Yvette Mutumba); “Object Atlas – Fieldwork in the Museum”, Weltkulturen Museum, 2012; “Seven Stories About Modern Art in Africa”, Whitechapel Gallery, London, 1995 and Konsthalle Malmö, 1996; “Lotte or the Transformation of the Object”, Styrian Autumn, Graz, and Akademie der Bildenden Künste Wien, 1990; Between 1996-2007, she produced eleven issues of the international writers’ and artists’ organ Metronome first published in Dakar in 1996. Between 2002 and 2009 she directed the international research lab “Future Academy”.